Dalam pertandingan yang berlangsung di Westenergie Sporthalle, Mülheim, Jerman tersebut, Tiwi/Fadia kalah rubber game 18-21, 21-8, 19-21 dalam tempo 86 menit.
Tiwi mengungkapkan, di gim pertama, mereka sebenarnya sudah menemukan pola permainan yang diinginkan. Namun, ia mengakui melakukan cukup banyak kesalahan sendiri di poin-poin akhir, sehingga fokusnya sedikit menurun dan berdampak pada hasil gim tersebut. "Masuk gim kedua kami coba ubah pola dan itu cukup berhasil. Di gim ketiga sebenarnya juga sudah mencoba, tapi di poin-poin akhir saya malah jadi terlalu hati-hati. Padahal harusnya lebih berani ambil keputusan," jelasnya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
"Evaluasinya jelas kami harus lebih fokus di poin-poin akhir. Terutama antisipasi bola-bola tanggung atau setengah-setengah, itu harus lebih siap lagi ke depannya," Tiwi, menambahkan.
Pada awal gim ketiga, kedua pasangan langsung terlibat duel ketat dengan selisih angka yang tak pernah lebih dari satu poin. Tiwi/Fadia kemudian mampu memecah kebuntuan usai memenangi reli panjang 113 pukulan untuk berbalik unggul 7-5. Momentum tersebut mampu mereka jaga hingga interval gim ketiga dengan keunggulan 11-9.
Pertarungan sengit kembali tersaji selepas interval ketika Li/Wang mampu menyamakan kedudukan 12-12. Duel kian memanas dengan skor imbang yang terus terjadi menjelang akhir gim ketiga, masing-masing pada angka 13-13, 14-14, 15-15, 16-16, dan 17-17.
Memasuki fase krusial, Li/Wang tampil lebih tenang dalam memanfaatkan peluang. Mereka dapat mengantongi satu game point setelah kok dari pengembalian Tiwi jatuh di luar lapangan. Kemudian, smes Wang yang gagal diantisipasi Tiwi, memastikan kemenangan 21-19 sekaligus mengantarkan Li/Wang tersebut melaju ke partai puncak.
Fadia menyatakan, penilaiannya tak jauh berbeda dengan Tiwi. Ia berpendapat, di gim pembuka dan penentuan, khususnya di fase-fase akhir, mereka bermain terlalu hati-hati dan cenderung ragu, sehingga membuat permainan tidak berkembang. "Akhirnya justru jadi tidak lepas," pungkasnya.


