Nawaf melaju ke final berkat kemenangan atas La Ode Muhammad Ahsan Kamil melalui dua gim langsung 21-18, 21-12. Ia menyebut kemenangan atas rekan satu klubnya itu tak lepas dari banyaknya kesalahan lawan, yang kemudian dimanfaatkannya dengan bermain lebih aman dan menjaga pengembalian bola tetap masuk. "Saya main aman dulu dan harus selalu siap jaga pengembalian dia," katanya kepada Djarum Badminton.
Saat unggul di gim kedua, lanjutnya, ia hanya berupaya menjaga fokus dan bermain konsisten hingga akhir pertandingan.
Dalam menghadapi laga final, Sabtu (2/5), Nawaf menegaskan fokus menjaga kondisi dengan istirahat yang cukup dan asupan yang baik, serta mengaku penasaran dan termotivasi karena tinggal selangkah lagi menuju gelar juara. "Saya penasaran, karena belum pernah juara di luar Pulau Jawa," ungkapnya.
Sementara itu, Geralldy, yang berstatus pemain non-unggulan pada kejuaraan yang berlangsung pada 27 April-2 Mei ini, merebut tiket ke semifinal setelah meredam perlawanan Arif Rahman Latjengke asal Jaya Raya Jakarta. Ia menang tiga gim 21-17, 13-21, 21-15. Geralldy menyebut kemenangan pada gim pertama diraih berkat tekadnya untuk memaksakan diri demi lolos ke final, tetapi pada gim kedua ia mengaku kesulitan akibat perubahan arah angin yang memengaruhi permainan.
"Selain berangin, lapangan juga cukup silau. Itu saja. Gim ketiga, ya, saya habis-habisan saja mainnya," jelasnya.
Geralldy mengaku senang setelah memastikan diri melangkah ke final dan menyebut tinggal satu pertandingan lagi untuk meraih gelar juara. Menanggapi pertanyaan tentang persiapannya jelang laga final, seraya terkekeh ia berujar, "Yang penting makan banyak, asal makannya jangan yang pedas-pedas, sama tidur yang cukup. Oh iya, sama minum vitamin juga."



