King lahir dari pasangan perantau asal Fujian, China. Ayahnya bernama Ng Thian Poo dan ibunya Oei See Moi. Keduanya menikah di Fuzhou, ibu kota Provinsi Fujian. Ng lebih dahulu merantau ke tanah Jawa dengan mengikuti pamannya ke Semarang, kemudian menetap di Kudus. Oei menyusul kemudian, dan dari pernikahan itu lahirlah sembilan anak, yang semuanya dilahirkan di Kudus. King merupakan anak ketujuh dalam keluarga tersebut.
Buku setebal 452 halaman itu mencatat, dalam akta kelahiran tertulis nama Ng Swie King yang lahir pada 28 Februari 1956, mengikuti marga ayahnya. Namun, King menyebut dirinya sebagai Liem Swie King. Ia bahkan sempat mendatangi notaris untuk meluruskan bahwa nama yang tertera dalam dokumen resmi tersebut adalah dirinya yang selama ini dikenal sebagai Liem Swie King.
Pada 1974, setelah ikut kewajiban naturalisasi kewarganegaraan, namnya diganti menjadi Guntur. Nama itu adalah pemberian kakak ketiga King, Liem Mei Tje, tetapi setelah itu nama Guntur malah jarang dipakai. "Entah mengapa aku tetap dikenal dengan nama Liem Swie King, bukan sebagai Guntur. Bahkan ketika aku aktif dalam pelatda Jawa Tengah di Semarang dan pelatnas di Jakarta, namaku yang didaftarkan oleh pengurus KONI dan PBSI tetap nama Liem Swie King," tuturnya.
Karier panjangnya berawal dari kesederhanaan. Pada 1964, di usia delapan tahun, King mulai mengenal bulu tangkis dengan raket papan kayu yang terbuat dari peti bekas alat sepeda yang dipotong dan dibentuk sepanjang 60 sentimeter. Ia bermain di toko sepeda Tek Hong milik ayahnya di Jalan Sunan Kudus No. 27. Bo Hin, penjaga toko, menjadi lawan main yang paling sering menemaninya.
Sampai usia 11 tahun, King masih setia bermain dengan raket papan, menepak-nepak kok di sela waktu luang. Minatnya terhadap bulu tangkis semakin kuat setelah dikenalkan oleh ayah serta dua kakaknya, Megah Inawati dan Megah Idawati. Pada 1970, bagian belakang rumah mereka direnovasi menjadi lapangan bulu tangkis, gairahnya untuk berlatih kian meningkat. Ia pun mulai rutin menantang rekan-rekan ayahnya untuk bertanding.
King, yang saat itu masih "ABG, aktif mengikuti berbagai kejuaraan hingga akhirnya menembus partai puncak sebuah kejuaraan bulu tangkis se-Kabupaten Kudus. Namun, di laga final ia harus mengakui keunggulan lawannya, Kusmanto. Kekalahan itu membuatnya tak kuasa menahan air mata. Seusai pertandingan, seorang pria menghampirinya dan bertanya, "Mengapa kamu menangis?"
"Aku kalah," jawab King, singkat. Pria itu kembali bertanya, “Maukah kamu dilatih oleh Djarum?”
Sosok tersebut kemudian dikenal King sebagai Robert Budi Hartono. "Aku mengangkat wajahku, lalu mengangguk sambil melempar senyum. Itulah awal mula aku bergabung dengan klub Djarum Kudus," kenangnya.
King, yang dijuluki "King Smash", adalah legenda PB Djarum. Buku Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia mencatat, namanya mulai mencuri perhatian khalayak saat berusia 20 tahun, ketika ia menantang seniornya, Rudy Hartono, di final All England 1976. King lantas melanjutkan tradisi kejayaan tunggal putra Indonesia dengan merebut gelar juara All England pada 1978, 1979, dan 1981, serta empat kali tampil sebagai finalis. King juga enam kali memperkuat tim nasional Indonesia di ajang Piala Thomas, dengan tiga gelar juara pada 1976, 1979, dan 1984.
Tak hanya berjaya di level dunia, King turut menyumbangkan medali emas pada Asian Games 1978 dan SEA Games 1981. Menariknya, menjelang akhir kariernya ia beralih ke sektor ganda putra. Di nomor ini, ia kembali menorehkan prestasi dengan menjuarai Piala Dunia pada 1984, 1985, dan 1986, Indonesia Open pada 1985, 1986, dan 1987, serta meraih emas SEA Games 1987.
Hari ini, legenda hidup bulu tangkis Indonesia itu genap berusia 70 tahun. Selamat ulang tahun, King!


