Hal tersebut diungkapkan Toma Junior Popov, salah satu pemain tunggal andalan Prancis, melalui sebuah wawancara dengan BWF TV yang ditayangkan melalui situs berbagi video YouTube, Senin (23/3). "Kami pernah mencapai perempat final pada 2018, tetapi untuk pertama kalinya kami berhasil menjadi juara Eropa. Hasil tersebut memberi kami keyakinan bahwa kami mampu bersaing dengan Denmark, sekaligus menumbuhkan harapan yang lebih tinggi," kata tinggal putra berperingkat ke-16 dunia itu.
"Tidak ada undian yang bagus, tidak ada undian yang buruk. Setiap pertandingan harus dihadapi secara profesional dengan mentalitas yang kuat, dan saya menilai kami memiliki tim yang cukup solid untuk bersaing dengan para pemain terbaik," tambah Toma, yang juga memperkuat sektor ganda bersama adiknya, Christo Popov.
Sementara itu, pemain tunggal lainnya, Alex Lanier, menilai tekanan di ajang beregu berbeda dibandingkan turnamen individu karena pemain tidak hanya bertanding untuk diri sendiri, melainkan juga membawa nama tim. Juara Orléans Masters 2025 dan 2026 itu mengakui, situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri, sekaligus menyebut performanya sejauh ini masih lebih konsisten di turnamen individu dibandingkan di ajang beregu. "Namun, bersama tim ini, saya merasa sangat nyaman dan percaya diri. Saya juga menikmati bermain untuk tim serta berada di lapangan bersama rekan-rekan, sehingga jelas menghadirkan perasaan yang berbeda," jelasnya, melalui tayangan bertajuk "Badminton Weekly Ep. 150 | #OrleansMasters2026 recap & what's next" tersebut.
"Kami saling mendukung satu sama lain 100 persen, baik dalam kemenangan maupun kekalahan. Dukungan penuh itulah yang menjadi kekuatan kami, dan secara jujur kami menikmati kebersamaan di tim serta tampil di ajang beregu," Lanier, menjelaskan.
Lain hal dilontarkan pemain ganda Thom Gicquel, yang menilai Prancis mendapat hasil undian yang kurang menguntungkan karena harus bersaing dengan dua negara kuat bulu tangkis. Meski demikian, ia menegaskan kebersamaan yang terbangun saat menjuarai Kejuaraan Beregu Eropa 2026 di Istanbul, Turki, menjadi modal penting untuk menepis stigma tersebut dan bertekad berjuang meraih hasil terbaik pada Piala Thomas 2026. "Kami sangat antusias untuk tampil di sana (Horsens) dan tidak sabar bermain bersama sebagai satu tim," ujarnya.
"Kami datang sebagai rekan sekaligus teman, dan meski akan menjadi ajang yang tidak mudah, kami yakin ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan," demikian Gicquel.


