"Tadi di gim pertama itu memang saya cukup susah untuk mempelajari pola lawan, karena dia sengaja memancing saya untuk menyerang dan bermain cepat, padahal itu yang dia inginkan," tuturnya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
Dhinda mengatakan pada gim kedua pelatih menginstruksikan untuk bermain lebih lambat, strategi yang dinilainya cukup berhasil meski tidak mudah karena lawan tampil ulet dan kuat, sehingga ia berusaha bertahan dalam reli-reli panjang. "Sayang memang sudah unggul lalu dipaksa setting sampai akhir, saya kurang tahan di poin terakhir," Dhinda, menjelaskan.
Lebih lanjut ia menyatakan, banyak belajar dari kekalahan pada pertandingan pertama melawan tunggal Kanada, yang kemudian diikuti evaluasi dan sesi dengan psikolog. Meski belum meraih kemenangan, ia menilai performanya pada laga kali ini sudah lebih baik. "Saya sudah mulai bisa mengatasi situasi-situasi sulit di lapangan. Kecewa pasti ada, tapi tidak mau berlarut-larut," kata pemain asal Jaya Raya Jakarta ini.
"Saya juga terima kasih kepada teman-teman di bench yang sudah mati-matian mendukung saya, ini membuat saya semakin percaya diri dan semoga ke depannya semakin percaya diri lagi," pungkasnya.
Sebelumnya, tunggal pertama Putri Kusuma Wardani meraih kemenangan atas Chiu Pin-Chian. Ia menang dengan skor identik 21-17, 21-17 dalam tempo 53 menit. Ganda kedua, Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti, harus mengakui keunggulan lawan pada partai kedua. Mereka kalah dua gim langsung 21-23, 13-21 dari Hsieh Pei Shan/Hung En-Tzu.



