Fajar/Fikri pertama kali kalah dari Raymond/Joaquin pada final Australian Open 2025. Kekalahan kembali terjadi pada pertemuan kedua di hadapan publik sendiri di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada perempat final Indonesia Masters 2026. Pertemuan terakhir kedua pasangan berlangsung pada babak kedua All England 2026. Dalam turnamen tersebut, perjuangan Raymond/Joaquin terhenti di semifinal setelah kalah dari pasangan nomor satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae.
"Evaluasi Eropa, ya, banyak yang harus dievaluasi, terutama ketika berhadapan dengan teman sendiri yang tidak didampingi sama pelatih. Kadang-kadang juga kita sedikit blank, bagaimana kelemahan lawan," kata Fajar kepada wartawan saat ditemui di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Rabu (1/4) pagi.
"Meskipun lawan juga sama, tapi itu kita rasakan sangat berbeda ketika ada pelatih dan tidak. Dan juga evaluasinya mungkin ketika menghadapi pasangan-pasangan yang muda, speed dan power yang luar biasa, kita harus bagaimana caranya bisa mengantisipasi itu semua dengan cepat," tambah pemain berusia 31 tahun itu.
Fajar juga menilai, intensitas latihan bersama membuat lawannya memahami kelemahan yang kemudian dimaksimalkan dalam pertandingan. Meski telah mencoba mengubah pola permainan, ia mengakui Raymond/Joaquin tampil luar biasa. "Mereka mempunyai speed dan power yang sangat bagus," jelasnya.
Seusai menjalani All England 2026, Fajar/Fikri langsung mengalihkan fokus pada Badminton Asia Championships 2026 yang berlangsung di Ningbo, China, 7-12 April. Berdasarkan hasil undian sementara, mereka akan bertanding melawan wakil Thailand, Pharanyu Kaosamaang/Tanadon Punpanich. "Persiapannya sudah cukup baik, sudah ada waktu dua-tiga minggu. Jadi kita lebih siap lagi, tinggal nanti aja di pertandingan kita bagaimana mempraktikkannya," demikian Fikri.


