"Pasti, puji Tuhan bisa selesaikan pertandingan tanpa cedera dan masih diberi kemenangan oleh Tuhan. Di gim pertama kami belum terbiasa dengan kondisi lapangan yang kalah angin jadi belum bisa mengontrol," kata Raymond kepada tim Humas dan Media PP PBSI.
Pada awal gim berikutnya, duel sengit langsung tersaji dengan perebutan angka yang berlangsung ketat hingga skor imbang 3-3. Raymond/Joaquin kemudian mampu memecah kebuntuan dengan merebut tiga poin beruntun untuk menjauh 6-3, dan tetap mempertahankan keunggulan 11-6 saat interval gim kedua.
Tempo permainan tetap tinggi sepanjang paruh kedua gim, tetapi Raymond/Joaquin tampil lebih konsisten dalam menjaga tekanan. Mereka terus memimpin hingga mengamankan sembilan game point, lalu menutup gim kedua dengan kemenangan 21-12 dan memaksa pertandingan berlanjut ke gim penentuan. "Di gim kedua kami sudah tahu harus bagaimana cara bermainnya dan berlanjut di gim ketiga yang sempat tertinggal lalu balik unggul," jelasnya.
"Di akhir mungkin kami sedikit hilang fokus dan lawan mengubah bola pertama dan keduanya jadi kami cukup keteteran," Raymond, menambahkan.
Pada awal gim penentuan, Raymond/Joaquin tampil dominan dengan merebut empat poin beruntun. Namun, Kang/Ki bangkit dan berbalik memimpin, kemudian menutup interval dengan keunggulan 11-8. Selepas jeda, Raymond/Joaquin kembali menemukan ritme permainan, menyamakan kedudukan 11-11, lalu berbalik unggul 15-11.
Kang/Ki tak tinggal diam dan perlahan mampu membangun kembali momentum hingga menyamakan kedudukan 16-16. Menjelang "angka tua", kedua pasangan saling berbalas angka hingga skor kembali imbang 19-19. Dalam situasi menegangkan tersebut, Raymond/Joaquin tampil lebih tenang dengan merebut satu match point, lalu memastikan kemenangan gim ketiga dengan skor 21-19.
"Setelah tertinggal 8-11 di interval gim ketiga, kami coba lebih meyakinkan diri bahwa kami belum kalah jadi fokusnya bagaimana bisa dapat satu poin demi satu poin, dan akhirnya bisa ambil tujuh-delapan poin beruntun. Di poin 19-19 coba spekulasi dengan flick service, nekat saja, dan puji Tuhan berhasil," ungkap Joaquin.
Kemenangan perdana di All England dipastikan akan menjadi momen yang membekas dalam ingatan kedua pemain muda tersebut. Mereka akhirnya mampu mewujudkan impian untuk tampil dan meraih kemenangan pada turnamen bulu tangkis prestisius ini. "Atmosfer All England memang berbeda dengan turnamen lainnya. Warna karpetnya juga abu-abu, jadi terasa sangat berbeda," tanggap Raymond.
"Sangat luar biasa bisa bermain di arena All England yang semegah ini," demikian Joaquin.


