HYDROPLUS Sirnas A DIY 2026 - Tantangan Adaptasi Skor dan Lapangan Baru

Muhammad Febri (Djarum Badminton/Edward Luhukay)
Muhammad Febri (Djarum Badminton/Edward Luhukay)
Sirkuit Nasional ‐ Created by EL

Yogyakarta | Sejumlah kejuaraan bulu tangkis nasional maupun internasional yang digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama ini identik dengan GOR Amongrogo. Namun, karena arena pertandingan tersebut tengah menjalani renovasi, HYDROPLUS Sirkuit Nasional (Sirnas) A DIY 2026 kali ini menggunakan venue alternatif, yakni POWR Hall Badminton. Sebanyak 949 pertandingan dalam kejuaraan tersebut digelar di dua gedung dengan total 11 lapangan.

Perubahan venue turut menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemain. Selain harus beradaptasi dengan kondisi lapangan dan suasana pertandingan di POWR Hall Badminton, mereka juga menghadapi sistem skor baru 15x3 yang untuk pertama kalinya diterapkan dalam ajang HYDROPLUS Sirnas. Kombinasi dua hal tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga konsistensi permainan sepanjang turnamen.

Salah satu pemain yang merasakan langsung tantangan tersebut adalah Muhammad Febri dari Taqi Arena Badminton Academy. Turun di kategori Tunggal Remaja Putra, Febri mengawali perjuangannya dengan menghadapi wakil Griya Bugar, Muhammad Nidzam Ar Rasyid, pada babak pertama. Ia mampu melewati pertandingan tersebut dengan kemenangan dua gim langsung 15-3, 15-9.

Meski berhasil mengamankan kemenangan, Febri mengaku masih harus beradaptasi dengan penerapan sistem skor baru 15x3. Selain itu, kondisi arena pertandingan di POWR Hall Badminton yang baru baginya juga menuntut penyesuaian dalam waktu singkat agar ia dapat segera menemukan pola permainan yang sesuai. "Menurut saya tadi lumayan enjoy dengan pertandingannya, tetapi saya juga masih coba-coba lapangannya juga," katanya kepada Djarum Badminton.

"Kalau mengenai sistem skor yang baru ini, memang lumayan kagok awalnya, tetapi pas tengah-tengah pertandingan sudah bisa menyesuaikan," Febri, menambahkan.

Sementara itu, pelatih Taqi Arena Badminton Academy, Saeful Anwar, mengatakan bahwa penerapan sistem skor 15x3 telah disosialisasikan kepada para pemain sejak sekitar satu bulan lalu. Para pemain juga telah menjalani simulasi pertandingan dengan format tersebut dalam berbagai sesi latihan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kompetisi.

Meski demikian, Saeful menilai situasi pertandingan tetap memberikan tekanan yang berbeda dibandingkan saat menjalani simulasi di latihan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat para pemain perlu kembali beradaptasi ketika sistem skor baru diterapkan dalam pertandingan sesungguhnya. "Pada umumnya para pemain itu berpikir, poin 15 itu durasinya pendek, jadi pikirannya pengin cepat selesai. Padahal, kan, jika lawan di seberang net itu bagus dan pertandingannya berlangsung alot, poin 15 itu pasti akan terasa lama," jelasnya.

Oleh karena itu, Saeful menilai para pemain harus mampu menjaga konsistensi permainan sejak poin pertama hingga pertandingan berakhir. Terlebih, dengan sistem skor 15x3 yang mulai diterapkan PP PBSI pada HYDROPLUS Sirnas A DIY 2026, setiap poin menjadi semakin penting sehingga pemain dituntut untuk tetap fokus dan meminimalkan kesalahan sepanjang pertandingan.

Lebih lanjut, Saeful mengatakan Taqi Arena Badminton Academy membawa 29 pemain untuk berlaga di Kota Pelajar. Klub bulu tangkis asal Bandung tersebut memasang target tinggi di sejumlah nomor, berbekal catatan positif yang telah ditorehkan para pemainnya pada beberapa seri HYDROPLUS Sirnas A sebelumnya. "Target kita di Sirnas ini di sektor ganda. Di tunggal kita berupaya untuk mendapatkan tempat di podium, tetapi kita harus bertarung maksimal dulu," pungkasnya.