Pergantian pelatih serta penarikan dua pasangan tersebut menjadi dua momen penting dalam pembenahan sektor ganda campuran pada pengujung Juli 2026. PP PBSI tidak merinci alasan penarikan Jafar/Felisha dan Adnan/Indah, tetapi menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari penyesuaian komposisi wakil "Merah Putih" untuk kejuaraan yang berlangsung di Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India, 17–23 Agustus.
Sekretaris Jenderal PP PBSI Ricky Soebagdja, melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI pada Senin (3/8), mengatakan keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari langkah organisasi untuk memastikan seluruh proses administrasi dan keikutsertaan atlet pada kejuaraan internasional berjalan sesuai dengan regulasi serta mekanisme yang berlaku.
Di sisi lain, PP PBSI juga menyatakan telah mengetahui, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tengah menjalankan proses peradilan independen (judicial proceedings) terkait dugaan pelanggaran integritas yang melibatkan sejumlah pemain Indonesia. PP PBSI menghormati dan mendukung sepenuhnya mekanisme yang diterapkan BWF sebagai bagian dari upaya menjaga integritas olahraga bulu tangkis sekaligus menghormati independensi proses yang sedang berlangsung.
Sejalan dengan ketentuan dalam proses tersebut, PP PBSI menegaskan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut mengenai substansi perkara maupun mengaitkan proses yang sedang berlangsung dengan atlet tertentu. Dalam situasi tersebut, PBSI bersama tim pelatih di bawah arahan Nova menghadapi tantangan untuk kembali membangun suasana yang kondusif di sektor ganda campuran, terlebih performa sektor ini dalam beberapa waktu terakhir masih menjadi sorotan khalayak lantaran belum adanya peningkatan prestasi yang signifikan.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting jika melihat perkembangan ganda campuran Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Dalam catatan Kompas yang dipublikasikan pada Jumat (7/8), setelah era Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Indonesia mengandalkan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, meski masa kejayaan pasangan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah itu, tongkat estafet beralih kepada Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari dan Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusuma Wati, sebelum kemudian Jafar/Felisha menjadi pasangan utama sejak 2025.
Namun, regenerasi di sektor ini menghadapi persoalan lain. Ketika Rinov/Pitha, Rehan/Lisa, hingga Jafar/Felisha menjadi pasangan terbaik pada eranya masing-masing, pelatnas belum memiliki pasangan senior yang cukup kuat untuk menjadi panutan sekaligus membantu perkembangan pemain-pemain muda. Keberadaan senior yang kompetitif dinilai penting karena dapat menjadi contoh sekaligus menciptakan lingkungan yang mendorong atlet muda untuk berkembang.
Jafar/Felisha, yang saat ini menjadi ganda campuran terbaik Indonesia, sempat menunjukkan prospek menjanjikan setelah menjuarai Taipei Open 2025 level Super 300 dan mencapai semifinal China Open 2025 level Super 1000. Namun, performa mereka menurun pada musim kompetisi tahun ini. Dari delapan turnamen yang diikuti, enam kali mereka terhenti pada babak pertama atau kedua.
Sementara itu, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah masih dipertahankan sebagai pasangan, meski belum mampu menembus jajaran elite dunia. Pencapaian terbaik mereka sejauh ini adalah perempat final turnamen level Super 100 dan semifinal Super 500. Dalam upaya mencari kombinasi baru, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil juga dipisahkan. Indah kini dipasangkan dengan Bagas Maulana yang beralih dari sektor ganda putra, sedangkan Adnan akan mendapatkan pasangan baru.
Media harian tersebut menyebutkan, situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Nova yang kembali dipercaya menangani ganda campuran pelatnas setelah sekitar 3,5 tahun menjalankan tugas kepelatihan di Malaysia. Tantangan Nova pun tidak sekadar membangun kembali kekuatan sektor tersebut, tetapi juga menyiapkan fondasi menuju Olimpiade Los Angeles 2028, dengan periode kualifikasi yang dijadwalkan dimulai pada April 2027 dan berlangsung selama satu tahun.



