Pada kategori perseorangan, seluruh pertandingan menggunakan format best of three games dengan target 15 poin pada setiap gim (15x3). Sementara itu, kategori beregu menerapkan format best of three sets dengan sistem relay point dan target 55 poin kumulatif, sesuai regulasi terbaru BWF.
Penerapan sistem skor baru tersebut pun menghadirkan tantangan tersendiri bagi para student-athlete. Dengan jumlah poin yang lebih sedikit dalam setiap gim, mereka dituntut untuk lebih cepat menemukan ritme permainan, menjaga konsentrasi, serta mampu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengamankan poin.
"Penerapan sistem baru ini memberikan dampak besar ke pola permainan, strategi, dan pembinaan atlet. Sistem ini menuntut pemain untuk langsung tampil dengan intensitas tinggi sejak awal pertandingan, tanpa banyak ruang supaya bisa membaca permainan lawan seperti di format poin sebelumnya. Atlet dengan karakter menyerang akan lebih diuntungkan dalam sistem ini," jelas Ketua Pengurus Provinsi PBSI Jawa Tengah, Basri Yusuf, melalui keterangan pers Campus League pada pekan lalu.
"Selain itu, perubahan skor juga menuntut kesiapan fisik yang lebih spesifik, terutama aspek power, ledakan gerak, akurasi, dan kapasitas anaerobik yang mendukung permainan cepat dan agresif," Basri, menjelaskan.
Terobosan Campus League dengan menerapkan sistem skor terbaru BWF pada kompetisi ini, dinilai oleh CEO Campus League, Ryan Gozali, sebagai langkah penting untuk membantu para pemain beradaptasi lebih dini dengan format pertandingan yang akan diberlakukan secara resmi pada tahun depan. "Kami memang menerapkan sistem skor terbaru BWF untuk curi start, karena sudah ada kepastian akan diberlakukan regulasi baru ini secara menyeluruh," katanya.
Lebih lanjut Ryan mengatakan, penerapan sistem skor terbaru BWF sejak dini, diharapkan dapat membuat para pemain, perangkat pertandingan, dan seluruh pihak yang terlibat, semakin familiar dengan format baru dari induk organisasi olahraga bulu tangkis dunia itu. Menurutnya, semakin sering sistem tersebut digunakan, semakin mudah pula seluruh pihak beradaptasi ketika aturan itu resmi diberlakukan. "Kami melihatnya sederhana, tapi arahnya memang jangka panjang. Karena sistem skor sebelumnya juga akhirnya akan kadaluarsa ketika aturan baru diterapkan, jadi kami berpikir untuk kepentingan long-term," pungkasnya.



