"Puji Tuhan kami bersyukur bisa juara di sini. Ini juga berkat support dan dukungan teman-teman terdekat kami dan juga orang-orang terdekat kami. Pelatih, dokter, fisioterapis, semuanya yang sudah membantu kami dan mendoakan, terima kasih," kata Daniel melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
"Dan juga untuk Leo, saya terima kasih sudah mau jadi partner saya lagi dan bisa berjuang sama-sama," tambah atlet berusia 24 tahun ini.
Sementara itu, Leo menyatakan, mereka benar-benar mempersiapkan fokus sebelum partai puncak ini dan berupaya untuk tidak kehilangan start lebih dulu. Strategi tersebut, menurutnya, berjalan cukup baik pada gim pertama, meski pada gim kedua pertandingan menjadi lebih ketat setelah Rankireddy/Shetty mulai mampu mengembangkan permainan. Namun, Leo memastikan, mereka tetap bisa tampil lebih siap di momen-momen krusial.
"Saat adu setting itu kami lebih berani ambil resiko dan jaga komunikasi sama Daniel karena kan dengan kondisi lapangan begini tidak ada reli-reli panjang jadi kami harus bisa maksimal di pukulan-pukulan awal," Leo, mengungkapkan.
Di sisi lain, menurut Daniel, ia dan Leo tampil lebih berani dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya melawan Rankireddy/Shetty, dengan bermain lebih menekan. Ia juga mengatakan, atmosfer pertandingan final terasa berbeda dan mereka berusaha memanfaatkan situasi itu hingga akhirnya mampu tampil maksimal. "Kami merasa di turnamen ini, kami berhasil karena komunikasi cukup baik dan memang sama-sama mau juara jadi itu membantu kami bisa tampil optimal," katanya.
Adapun bagi Leo, gelar juara turnamen bulu tangkis level BWF World Tour Super 500 tersebut memiliki arti besar, bukan hanya bagi dirinya dan Daniel, tetapi juga untuk tim Indonesia serta seluruh rekan di PBSI. "Semoga ini jadi momentum untuk bangkit karena Olimpiade sudah dekat," pungkasnya.



