Pertandingan berlangsung ketat hingga gim penentuan, termasuk ketika Yere/Patra harus menghadapi tekanan pada poin-poin akhir. Yere mengatakan mereka berusaha menjaga keyakinan dan terus saling memberikan semangat hingga mampu mengejar ketertinggalan dan mengamankan kemenangan. "Di gim ketiga, kami berniat untuk langsung menekan mereka, tapi malah mati-mati sendiri. Ada 4-5 poin kami melakukan kesalahan. Dari situ agak tegang dan jadi bingung mau main seperti apa," ungkap Yere melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
"Saat tertinggal 16-19 memang kami mengubah pola dengan tidak banyak bermain net," tambahnya.
Sementara itu, Lintang mengakui pertandingan berlangsung sengit sejak awal, tetapi pengalaman dan ketenangan menjadi pembeda pada poin-poin akhir gim penentuan. Ia menilai mereka masih perlu belajar mengelola situasi krusial dalam pertandingan.
Senada dengan rekannya, Evano mensyukuri perjalanan mereka yang mampu menembus semifinal. Menurutnya, setiap pertandingan sejak babak awal hingga empat besar berlangsung ketat dan tidak mudah untuk dilalui. "Ini modal buat kami tapi je depan harus persiapkan lebih matang lagi," katanya.
Adapun bagi Yere/Patra, di final pada Minggu (30/8), mereka bertemu dengan pasangan pelatnas lainnya, Wahyu Agung Prasetyo/Pulung Ramadhan. "Kami harus menyiapkan lagi, pastinya mau juara," demikian Patra.


