Polytron Indonesia Open 2026 - "Pink": Penonton Indonesia Sangat Menggemaskan

Pitchamon Opatniputh (Djarum Badminton)
Pitchamon Opatniputh (Djarum Badminton)
Indonesia Open ‐ Created by EL

Jakarta | Tunggal putri Thailand, Pitchamon Opatniputh, memastikan tempat di babak 16 besar Polytron Indonesia Open 2026 setelah mengalahkan wakil Vietnam, Nguyen Thuy Linh, pada Rabu (3/6). Pebulu tangkis berusia 19 tahun itu mengaku menikmati kembali bermain di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, arena yang menyimpan kenangan manis baginya setelah meraih status runner-up pada Indonesia Masters 2026.

Menurut Pink, sapaannya, salah satu hal yang membuatnya senang bertanding di Jakarta adalah antusiasme para pencinta bulu tangkis Indonesia yang dinilainya sangat ramah dan menggemaskan. "Saya tahu laga selanjutnya akan sangat sulit, tetapi saya suka bermain di sini. Saya suka dengan penggemar di Indonesia, mereka sangat menggemaskan," tuturnya kepada Djarum Badminton.

Pink memuji atmosfer yang diciptakan oleh para penonton di Istora. Pemain peringkat ke-24 dunia itu menilai, dukungan yang diberikan suporter tidak hanya terasa untuk dirinya, tetapi juga untuk para atlet yang bertanding di lapangan lain. Euforia dan antusiasme penonton di Istora, lanjutnya, sulit ditemukan di tempat lain, bahkan ia menyebut suasananya jauh lebih meriah dibandingkan dengan yang biasa ditemuinya saat bertanding di negara asalnya. "Di Indonesia itu sangat berisik, bahkan lebih berisik daripada Bangkok," katanya.

"Dan itu juga, menggemaskan. Mereka semua sangat menggemaskan," Pink, menambahkan.

Pink mengawali perjalanannya di Polytron Indonesia Open 2026 dengan kemenangan meyakinkan atas Nguyen. Ia menang dua gim langsung 21-8, 21-13 dalam waktu 35 menit. Menurutnya, Nguyen sempat kesulitan beradaptasi dengan kondisi lapangan yang cukup berangin, situasi yang berhasil dimanfaatkannya untuk mengambil kendali permainan dan menuntaskan gim pertama dengan relatif cepat. "Saya rasa, dengan kondisi lapangan yang berangin, di gim pertama itu lawan kesulitan untuk mengendalikan laju kok. Sementara itu, saya dapat memanfaatkan kondisi tersebut dengan baik dan dapat memenangi gim pertama," tuturnya.

"Di sisi saya pada gim pertama itu lebih mudah untuk dikontrol, tetapi juga diperlukan waktu yang cepat untuk beradaptasi," tambahnya.

Terakhir kali Pink tampil di Istora, ia melaju hingga partai puncak, tetapi kalah dari wakil China, Chen Yufei. Kini, dalam penampilan keduanya di turnamen level Super 1000 melalui Polytron Indonesia Open 2026, Pink memilih untuk tidak memasang target yang terlalu jauh. Secara umum, ia berharap dapat menampilkan permainan terbaiknya dan tampil konsisten di setiap pertandingan yang dijalani sepanjang turnamen. "Ini Super 1000 saya yang kedua, dan kali ini saya akan berusaha untuk memberikan performa terbaik," jelasnya.

"Saya tahu ini tidak mudah, level tinggi, tetapi saya akan berusaha," demikian Pink.